Lebih epik lagi melihat mesin penggeraknya. Alih-alih menggunakan genset industri berkekuatan raksasa, struktur tripod yang menjulang tinggi dari penyangga kayu jati itu digerakkan oleh mesin truk bekas, salah satunya truk Mercy tua. Truk-truk yang masanya sudah habis di jalan raya diparkir abadi di puncak bukit, lalu mesinnya dimodifikasi untuk menarik sling baja penimba minyak dari perut bumi. Mengagumkan sekaligus bikin ketar-ketir. Ketika ditanya apakah penyangga kayu jati dan mesin modifikasi itu aman, warga menjawab dengan santai: “Aman…” Sebuah kata “aman” yang hanya bisa diucapkan oleh orang-orang yang sudah berdamai dengan risiko harian.
Kontradiksi yang Subur
Secara logika lingkungan, daerah tambang minyak biasanya identik dengan tanah yang mati, gersang, dan berbau belerang menyengat. Namun, Wonocolo menolak tunduk pada hukum alam itu. Di sela-sela tanah lempung yang bercampur rembesan minyak mentah, tanaman alpukat, durian, hingga kopi justru tumbuh subur di wilayah kecamatan ini.
Ini seperti melihat anarki industri dan berkah agraris tidur dalam satu ranjang yang sama. Bumi Wonocolo tampaknya terlalu ramah, sampai-sampai ia tidak keberatan dieksplorasi ratusan lubang bor tradisional sembari tetap memberi makan warganya lewat buah-buahan di atas permukaan.
Namun, mengelola sumur minyak tradisional tentu bukan tanpa drama birokrasi. Kepemilikannya terbagi dalam kelompok-kelompok kecil berisi sekitar 30 orang per sumur, lengkap dengan skema bagi hasil bersama investor bermodal dengan rasio 70:30. Sebuah ekosistem ekonomi mikro-kapitalisme rakyat yang bergerak mandiri, dengan syarat: seluruh minyak mentah wajib disetorkan ke Pertamina melalui koperasi daerah.
Jangan Cuma Datang untuk Berswafoto
Saran saya, jika Anda berkesempatan mengunjungi wisata sejarah Bojonegoro ini, jangan langsung menuju ke sumur-sumur ekstrem tempat para penambang bertaruh nyawa. Mampirlah dulu ke Museum Geopark Wonocolo sebagai “otak” dari kawasan ini.
Di dalam museum tersebut, Anda akan disuguhi catatan rapi mengenai evolusi teknologi pengeboran, replika alat bor, hingga contoh bebatuan dan fosil purba. Menonton infografis di museum akan memberikan Anda kacamata yang benar saat melihat para penambang bekerja di lapangan. Anda tidak akan melihat mereka sekadar sebagai tontonan eksotis, melainkan sebagai bagian dari rantai panjang perjuangan energi yang berjalan lintas zaman.
Epilog: Jejak Purba yang “Mengungsi” ke Kota
Namun, ada satu catatan penting yang tertinggal jika Anda hanya mengendus bau solar di atas bukit Kedewan. Museum Geopark Wonocolo kini perlahan berbagi perannya. Sisi historis yang lebih megah dan rapi rupanya telah diboyong turun gunung menuju jantung peradaban kabupaten.
Banyak fosil purba bernilai tinggi—saksi bisu ketika tanah Bojonegoro ratusan juta tahun lalu masih berupa dasar lautan terdalam—kini sudah dievakuasi dan dirawat dengan standar yang lebih mumpuni di Pusat Informasi Geopark Bojonegoro. Lokasinya berada sangat strategis di jalur protokol, tepatnya di Jalan Sudirman, kawasan Kota Bojonegoro.
Langkah ini terasa masuk accual sekaligus menyimpan ironi khas daerah. Di satu sisi, pemindahan fosil-fosil itu ke pusat ibukota adalah upaya penyelamatan aset ilmiah agar tidak rusak dikepung debu tambang, risiko tanah ambles, dan uap minyak mentah. Di sisi lain, ini seperti memisahkan jiwa purba Wonocolo dari raga bukitnya yang perkasa.
Jadi, jika Anda ingin tuntas memahami anomali sejarah ini, skenarionya begini: datanglah ke Jalan Sudirman di pusat kota untuk mengagumi keheningan masa lalu lewat fosil-fosil yang berjejer rapi di balik etalase kaca yang sejuk. Baru setelah itu, berkendaralah ke utara, menanjaklah ke Wonocolo untuk melihat bagaimana bumi dipaksa bekerja keras memutar mesin Mercy tua demi menyambung hidup manusia hari ini. Keduanya adalah dua sisi mata uang dari satu nama: Bojonegoro.
Teksas Wonocolo adalah pengingat getir sekaligus manis: bahwa di negeri yang kaya raya ini, ketika teknologi modern terlalu mahal untuk menyentuh rakyat jelata, “nalar”, kayu jati, dan mesin truk bekas selalu punya cara tersendiri untuk menjemput kesejahteraan. Setidaknya, sampai estimasi cadangan minyak peninggalan Belanda itu benar-benar habis diperas zaman.
- “Sebagian riset data dan penyelarasan bahasa artikel ini dibantu oleh Gemini AI. Redaksi manusia tetap melakukan pemeriksaan, verifikasi fakta, dan memegang kendali penuh atas penerbitan konten ini.”

